Wednesday, 1 September 2010

KAUM MURUT TOLAK DR JEFFRY KITINGAN



Oleh: KREW SABAHKINI.NET

BARISAN kepimpinan Kaum Murut yang menjadi teras kekuatan Parti Keadilan Rakyat di Bahagian Pedalaman menggesa agar Majlis Pimpinan Tertinggi PKR supaya tidak membenarkan Dr. Jeffry Kitingan campur tangan dalam Cabang PKR Pensiangan.

Kandungan satu Memorandum yang disampaikan kepada Ketua Umum PKR yang ditandatangani oleh mantan Ketua Cabang Tenom dan Ketua Cabang Pensiangan bersama lima yang lain menuntut kerjasama Ahli MPT PKR supaya tidak menghulurkan bantuan bagi membolehkan Dr. Jeffry Kitingan memporak perandakan Cabang PKR yang dipimpin oleh Ketua Masyarakat Kaum Murut di Pedalaman.

Salinan Memorandum yang disampaikan adalah seperti berikut (Klik imej untuk jelaskan gambar).



























































































































CALON MAHASISWA MALAYSIA DITOLAK KULIAH




UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM), demi nasionalisme menolak calon mahasiswa asal Malaysia terutama untuk fakultas kedokteran dan farmasi.

"Penolakan ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan `memanasnya` hubungan Indonesia-Malaysia. Kebijakan ini sudah kami terapkan sejak awal berdirinya fakultas kedokteran (FK) dan farmasi sekitar 10 tahun lalu," tegas Rektor UMM Dr Muhajir Effendi di Malang, Selasa.

Menurut dia, penolakan terhadap mahasiswa Malaysia yang ingin masuk FK tersebut juga berlaku bagi mahasiswa asing lainnya, seperti Malaysia, India maupun beberapa negara di Asia lainnya.

Ia mengakui, penolakan terhadap mahasiswa asing yang ingin kuliah di FK UMM tersebut sebagai salah satu bentuk nasionalisme semata, sebab Malaysia juga memberlakukan kebijakan yang sama, menolak mahasiswa Indonesia yang akan kuliah di FK di sejumlah perguruan tinggi di Malaysia.

Muhajir juga prihatin terhadap sejumlah perguruan tinggi di Indonesia terutama yang ada di Malang, masih tetap mau menerima sejumlah mahasiswa asing di FK.

Padahal, lanjutnya, di Indonesia sendiri masih kekurangan tenaga dokter dan farmasi cukup banyak, namun kenapa perguruan tinggi tersebut tidak memrioritaskan mahasiswa lokal.

"Kalau untuk fakultas lain, silakan saja menerima mahasiswa asing. Di UMM juga banyak mahasiswa asingnya, namun untuk dua fakultas itu (kedokteran dan farmasi) harus mahasiswa lokal, mahasiswa asing termasuk Malaysia tidak berhak menggunakan fasilitas mahal dan canggih di dua fakultas itu," tegasnya.

Muhajir juga memperkirakan, ke depan FK di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia termasuk di Malang bakal dibanjiri oleh peminat (mahasiswa) asing karena berkaitan dengan standar internasional yang diberlakukan AFTA.

"Meskipun calon mahasiswa asing di dua fakultas itu berduyun-duyun ingin kuliah di UMM dan berani membayar lebih tinggi ketimbang mahasiswa lokal, Insyaallah UMM akan tetap menjaga komitmen, tidak akan menerima mahasiswa asing di dua fakultas yang berbiaya tinggi ini," tegasnya.

Kuota mahasiswa FK di UMM rata-rata hanya 170 orang per tahun, sedangkan di farmasi hanya 150 orang. Jumlah mahasiswa asing di UMM mencapai ratusan dan 20 di antaranya berasal dari Malaysia yang tersebar di beberapa fakultas, kecuali FK dan farmasi. (ANTARA News)

SAMBUT MERDEKA DALAM KEGELAPAN?



Saudara Pengarang,

SEBAGAI pengguna, saya berasa amat kecewa dengan perkhidmatan buruk SESB kerana bekalan elektrik yang sering terputus dan kejadian terkini pada malam kemerdekaan, sekitar jam 9.30 malam sehingga jam 1 pagi, 31 Ogos 2010 sehingga sambutan kemerdekaan tidak langsung memberi makna.

Sebagai pengguna, saya boleh bersabar seandainya bekalan terputus ini adalah yang pertama kali, tetapi ia sering berlaku dan hari ini, 01 September 2010 kira-kira jam 9.30 pagi tadi, elektrik kembali terputus.

Senario ini sangat-sangatlah merimaskan bagi orang dewasa kanak-kanak, apatah lagi bagi umat Islam yang mengerjakan ibadah puasa. Saya menghantar email ini untuk meminta penjelasan dari pihak SESB apakah punca bekalan sering terputus dan apa tindakan yg telah dibuat untuk mengatasi masalah tersebut.

Sekian, Salam Hormat,

FARIZAN

yanaleesya79@yahoo.com

CHIN SU PHIN BIT THE HAND THAT FEEDS HIM




Dear Editor,

LDP Chin Su Phin who made a statement in the recent BN meeting that he could no longer work with Chief Minister Musa Aman is surely a joke. As a BN component party but refuses to work together with the State government, what is Chin playing at? Unless LDP planned to leave BN once and for all, there is no avoiding cooperation with the State government. Replacing a Chief Minister is more easily said that done, Chin should well know about this.

Regards,

CONCERNED SABAHAN

SABAH PKR'S STUMBLING BLOCK



By: JOE FERNANDEZ

THE flip-flops in the continuing saga of Sabah Parti Keadilan Rakyat (PKR), a troubled chapter, should come as no surprise to anyone who knows party advisor Anwar Ibrahim.

Anwar has a long history of unfulfilled pledges in Sabah. This is a history which began with his entry into Umno in 1984. He stepped up his reputation further when the Barisan Nasional (BN) overthrew the Parti Bersatu Sabah (PBS) government a month after state elections in 1994 with the elaborate promise of ‘Sabah Baru’ (new Sabah) in 100 days.

The sole exception, pledge-wise, is the appointment of Kota Kinabalu division chief Christina Liew Chin Jin Hadhikusumo as the Sabah state deputy chief late last year as part of a peace plan. For this, credit must go to party president Wan Azizah Wan Ismail, who is close to Liew. The rest of the plan is in ruins, thanks to Anwar, the only stumbling block.

Anwar is a political animal who does not say what he means and does not mean what he says. It’s for no reason that Umno, his old party, has labeled him a political chameleon. What benefit he gets by adopting this mindset is beyond anyone’s comprehension. Anyone would like to know where he or she stands vis-à-vis another. Those who don’t subscribe to this ethic would soon be history as any good businessman would swear.

This is something to be said in favour of former Prime Minister Mahathir Mohamad who is no doubt a hardcore racist. He leaves no one in any doubt what he stands for and never hesitates to let the other person know where he stands with him (Mahathir).

Anwar, however, is no Mahathir despite the fact that the latter is an original political animal. He lacks the flexibility and resilience of the older man.

So, it’s highly unlikely that 12 senior party activists 11 Dusuns, 1 Brunei currently facing a one-year suspension will have their punishment reduced upon appeal. The sentence for their involvement in the aborted formation of Parti Cinta Sabah (PCS) will stand undiminished and perhaps even enhanced to push Sabah strongman Jeffrey Gapari Kitingan to his limits. This will take his 12 disciples out of the running for the divisional elections slated for Sept 18 and 19, if not the party altogether.

The likely result, even in the event their sentences are not enhanced, will be the inevitable departure of the 12 from the party.

Any discussion on a new deal struck between Anwar and Kitingan on the fate of the 12 would be an exercise in utter futility even if it doesn’t fuel polemics. If the recent history of the written peace plan is any indication, the new verbal deal is as good as dead.

The PKR advisor virtually called Kitingan a liar yesterday. This was after the latter apparently pre-empted the reneging on their secret deal on the 12. He prematurely disclosed the 12-9 =3 formula for the resolution of the crisis i.e. nine of his 12 men to have their sentence substituted by warning letters. The remaining three would have their suspension reduced by half and backdated to Jan 4, the date when the PCS application was officially withdrawn, according to what the Registrar of Societies reportedly told PKR.

Anwar has capitalized on Kitingan’s pre-emptive strike to entertain his inner circle with his own take on the 12-9 = 3 formula i.e. all 12 to be suspended but can appeal. The sentence on the three principal office-bearers of PCS would stand and take them out of the running for the Sept 18 and 19 polls. The other nine would be eligible. Their sentence would be back-dated to Jan 4 and reduced sufficiently to enable them to stand for the polls next month. This can be seen as another of Anwar’s fairy tales if his rubbishing of Kitingan’s take on the formula is any indication.

Kitingan and Anwar, it is clear, have been talking past each other for a very long time. This is very likely to continue and end in even more broken pledges to test Kitingan’s patience to the limits of human endurance. Sabah rights, the Malaysia Agreement, the Tambunan Declaration, the 20 Points and autonomy are yet to enter the PKR Constitution despite many promises.

The Sabahan, as a member of the majority local community, sees himself as the rightful ruler of his state, an idea which is anathema to Anwar who is Umno unreformed, unrepentant. Mahathir may have taken Anwar out of Umno but no one can take the Umno out of him. He stands for Malay Muslim political supremacy in Sabah as well and justifies this on the grounds that “the Muslims are now in a majority in the state”.

This may be true if one includes the illegal immigrants with MyKads who have entered the electoral rolls as Malay Muslims. Besides, Sabahans now number only 1.5 million while the foreigners including illegal immigrants have eclipsed them at 1.7 million.

So, Anwar’s idea for the immediate future seems to be to make full use of Kitingan for his hidden agenda in the state while stringing him along until he has no further use for him. The PKR supremo figures that ten parliamentary seats from Sabah and an equal number from neighbouring Sarawak, both through Kitingan if he remains politically naïve and trusting long enough, will help put him firmly in the saddle in Putrajaya in 2013.

How going from the frying pan (BN) into the fire (PKR) benefits Sabah and Sarawak is anyone’s guess on the other side of the South China Sea.

PKR, and by extension Pakatan Rakyat despite DAP and Pas having some saving graces – will be another, certainly more degenerate, version of Umno and BN. There’s still the possibility of making BN and Umno see reason especially in Sabah and Sarawak. The same cannot be said for Anwar given his dubious track record.

The writing is on the wall. Long before push comes to shove, Kitingan will leave PKR for his own political vehicle as his people have already been long demanding. In that case, BN will win once again in Sabah and Sarawak but by default if Anwar doesn’t give way to him in the seats that he wants. The question of BN giving way to Kitingan’s new political vehicle does not arise.

He could also return to PBS, which he co-founded in 1984 with his elder brother, especially if the latter becomes Chief Minister once again to complete Musa Aman’s – another Dusun term. This is the hottest topic in Sabah today. If Joseph Pairin Kitingan becomes Chief Minister of Sabah once more, even if just for the run-up to 2013, the BN will win the state with a landslide. Not a single KadazanDusunMurut vote will go to the opposition.

The return of the KDM to the BN will make it extremely difficult for the Dayaks in neighbouring Sarawak to abandon the ruling coalition at this juncture. The Dayaks are looking to the Kitingans for their political lead as they lack leaders of similar calibre, the continuing polemics on them notwithstanding.

(The views expressed here are those of the writer and do not necessarily represent the views of Sabahkini.net and/or its associates).

MOHD FITRI PENGERUSI AJK MUDA MASJID



GENERASI MUDA........Gambar menunjukan sebahagian Ahli Jawatankuasa Badan Generasi Muda Masjid Baitul Makmur Kampung Kota Tuaran. Berdiri dua dari kiri, Mohamad Fitri Haji Ghulabdin.

Oleh: KREW SABAHKINI.NET

MENGIMARAHKAN Masjid dan Surau terutamanya di bulan Ramadan adalah satu ibadah yang amat digalakkan, sebaiknya ia dapat melibatkan generasi muda agar mereka lebih awal diterapkan dengan anjakan solat berjamaah.

Sehubungan itu generasi muda di mana juga, wajar diberikan peluang untuk menubuhkan satu badan jawatankuasa yang menjadi nadi kepada mereka untuk membantu menentukan pelbagai kemudahan termasuk kebersihan di rumah suci ini dapat dijaga kebersihan persekitaranya.

Atas kesedaran ingin menentukan Generasi Muda mencintai Masjid dan Surau, maka Jawatankuasa Masjid Baitul Makmur, Kampung Kota Tuaran yang diterajui oleh Pengerusinya Haji Adis Enjih telah mempersetujui Mohamad Fitri Haji Ghulabdin sebagai Pengerusi Ahli Jawatankuasa Badan Generasi Muda Masjid berkenaan dalam mesyuarat pembentukannya yang telah diadakan pada pagi Ahad lepas.

Mesyuarat pembentukan badan itu juga telah memilih Mohamad Nazrin Haji Matsah sebagai Timbalan pengerusi dan Shafinaz Haji Ghulabdin diberikan tanggungjawab menjadi Setiausaha dengan dibantu oleh Penolong Setiausaha, Arfahzalinda Haji Adis.

Sementara itu Ahli Jawatankuasa lainnya terdiri daripaada, Azwari Ali Taugan sebagai Bendahari, Rodzie Adzhir Rahman menyandang jawatan Ketua Penerangan dan Ahli Jawatankuasa biasa ialah Ali Nor Bakti Amin, Ghulam Farouq Noordin, Mohamad Firdaus Hamran, Ghulam Fariz Noordin dan Darul Nazrin Haji Jamani.

Berucap selepas pemilihan itu Mohamad Fitri menghargai kepercayaan yang diberikan kepadanya yang bukan merupakan satu kebangaan tetapi tanggungjawab berat untuk dilaksanakan terutama untuk menanamkan minat kepada keseluruhan generasi muda di kampung tersebut untuk mengimarahkan Masjid pada setiap solat berjamaah.

"Meskipun saya terpilih sebagai pengerusi, tetapi peranan dan usaha untuk menjayakan aktibiti yang akan dilaksanakan bukan adalah merupakan tanggungjawab bersama. Saya mengharapkan generasi muda akan menyambut cabaran untuk bersama-sama menjayakan apa-apa juga kegiatan yang dianjurkan oleh Masjid ini pada masa hadapan," kata Mohamad Fitri lagi.

Beliau menyatakan beberapa program yang telah disusun sempena bulan Ramadan ini akan juga dilaksanakan seperti pembersihan sekitar Masjid dan Takbir beramai-ramai yang akan diadakan pada malam menjelangnya hariraya aidil fitri tidak lama lagi.

Mesyuarat pembentukan Ahli Jawatankuasa Badan Generasi Muda Masjid Baitul Makmur, Kampung Kota turut dihadiri dan dirasmikan oleh Pengerusi Ahli Jawatankuasa Masjid kampung tersebut, Haji Adis Enjih.

PEMIMPIN UMNO HILANG HARGA DIRI!



Oleh: IBNI ABDULLAH

KENYATAAN Presiden LDP, Datuk V.K. Liew yang membidas peribadi Datuk Salleh Tun Said sungguh mengaibkan! Pemimpin UMNO semacam sudah hilang kehormatan dan harga diri sehingga sebuah parti komponen yang kecil seperti LDP dengan rasa bangga diri memperlekeh kewibawaan mereka.

Atau sememangnya pemimpin UMNO sudah tiada wibawa sehingga kenyataan Datuk V.K. Liew, "we just have to ignore people like Salleh" boleh dikeluarkan tanpa rasa segan dan adab susila sebagaimana yang dilaungkan oleh para pemimpin UMNO/BN selama ini yang kononnya mereka adalah sebuah keluarga yang besar yang semua pandangan dan kritikan hendaklah dibuat dalam semangat kekeluargaan.

Sikap para pemimpin LDP yang terus menerus mempertikaikan kepemimpin Datuk Musa dan segelintir pemimpin UMNO hanya mengesahkan bahawa semangat kekeluargaan BN sedang menuju kehancuran!

Ini juga petanda bahawa badi kemenangan Pakatan Rakyat dalam pilihanraya kecil Sibu baru-baru ini pasti akan menghantui UMNO/BN Sabah. Impian UMNO/BN yang ingin terus menerus menjadikan Sabah dan Sarawak sebagai 'fixed deposit' bagi mengekalkan penguasaan BN di peringkat Federal akan menjadi igauan ngeri pada PRU kali ini memandangkan kesungguhan rakyat Sabah untuk memberi kepercayaan kepada PR bagi menggantikan BN yang semakin reput dan bernanah.

Setelah lebih 50 tahun memerintah negara ini, berkokok siang malam menyeru rakyat bersatu padu, pemimpin UMNO/BN terus konsisten mempelopori politik adu domba dan penganjur perpecahan sebagaimana dapat kita saksikan sekarang. Rakyat Sabah harus bersikap positif dan bersedia memberikan ruang bagi PR membuktikan kemampuan dan keupayaan mentadbir urus negeri ini dengan matlamat mengembalikan hak dan maruah rakyat Sabah yang telah dirobek dan dirampas oleh kroni dan pemimpin UMNO/BN.

Sesungguhnya pemerintahan PR di Pulau Pinang, Kedah dan Selangor adalah manifestasi keupayaan pemerintahan PR menjaga kebajikan dan kepentingan rakyat...bukan merampas dan merompak hakmilik rakyat sepertimana dilakukan selama lebih 50 tahun di era pemerintahan UMNO/BN di negeri-negeri tersebut!

MALAYSIA 47 NOT 53 YEARS?




Dear Editor,

FROM from 1963 to 2010 is 47 years, not 53 years. Malaysia is 47 years not 53 years. Before 1963, there was no Malaysia. Malaysia is not a change of name of Malaya. It's a new federation with a new constitution based on an equal partnership formula while accepting the three-tier power-sharing structure.

People in Sabah and Sarawak have been shouting themselves hoarse on this issue for years, but to no avail. Sabah and Sarawak became independent on August 31, 1963 but Malaya six years earlier on Aug 31, 1957.

On this date, Sabah and Sarawak were not independent but still British colonies. So, there is need for them to hoist the Malaysian flag on August 31. They should only hoist the state flags. Malaya can hoist the Malaysian flag on August 31 if it wants since it claims that it was in Malaysia on that date in 1963 while waiting for Sabah and Sarawak to enter on September 16.

The delay was caused by the UN releasing the results of a referendum only 16 days later. The referendum found that only a third of the people accepted M'sia.

Regards,

JOE FERNANDEZ